Gelombang Panas Terjang Eropa, Warga Prancis Berebut AC Murah hingga Rusuh
JAKARTA, iNews.id - Gelombang panas kembali melanda Prancis dan memicu kepanikan di tengah masyarakat. Ribuan warga rela mengantre sejak pagi demi mendapatkan pendingin ruangan (AC) portabel berharga murah yang dijual supermarket Lidl, namun keterbatasan stok membuat suasana berubah ricuh hingga polisi turun tangan.
Fenomena tersebut terjadi di sejumlah gerai Lidl di Paris dan wilayah sekitarnya. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan antrean panjang warga yang berharap membawa pulang AC portabel untuk menghadapi suhu udara yang terus meningkat.
Produk yang menjadi incaran dijual mulai 179 euro atau sekitar Rp3,4 juta. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan AC portabel serupa di pasaran yang dapat mencapai 1.200 euro atau sekitar Rp22 juta.
Tak heran, banyak warga rela menunggu berjam-jam sebelum toko dibuka. Namun, harapan mereka pupus setelah mengetahui stok yang tersedia sangat terbatas.
Salah seorang pembeli, Mousa Traore, mengaku telah mengantre lebih dari satu jam. Dia kecewa setelah mengetahui unit AC yang tersedia sudah habis.
"Awalnya kami diberi tahu hanya ada dua unit. Lalu polisi datang dan akhirnya kami diberi tahu sudah tidak ada lagi. Saya sampai bercanda mungkin AC-nya dibawa polisi," katanya sambil tertawa seperti dikutip dari South China Morning Post, Jumat (3/7/2026).
Ketegangan meningkat ketika sebagian warga mulai berebut antrean. Polisi akhirnya dikerahkan ke sedikitnya dua gerai Lidl untuk mengendalikan situasi agar tidak semakin memanas.
Meski mayoritas warga tetap tertib, beberapa orang dilaporkan mencoba menyerobot antrean sehingga memicu keributan. Seorang manajer toko bahkan memilih tidak membuka pintu supermarket sampai kondisi benar-benar aman.
Seorang karyawan Lidl mengonfirmasi toko hanya menerima dua unit AC portabel. Namun, dia tidak menjelaskan apakah seluruh stok tersebut telah habis terjual.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan pinggiran Paris, termasuk Sevran dan Livry-Gargan. Antrean kendaraan menuju supermarket menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan.
Banyak warga akhirnya memilih pulang tanpa membawa AC setelah melihat panjangnya antrean.
"Saya menyerah. Ini benar-benar gila. Saya bahkan harus memarkir mobil beberapa jalan dari toko dan berjalan kaki. Tapi antreannya sudah sangat panjang. Mustahil mendapatkan AC," kata seorang warga bernama Lolo.
Lonjakan permintaan AC terjadi setelah Prancis baru saja melewati salah satu gelombang panas paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan meningkatnya angka kematian, rumah sakit dipenuhi pasien, sejumlah sekolah ditutup, hingga berbagai festival musik dibatalkan.
Badan meteorologi Prancis juga memperkirakan suhu tinggi akan kembali melanda pada akhir pekan ini. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir menghadapi musim panas yang diprediksi masih berlangsung.
Berbeda dengan negara beriklim tropis, sebagian besar rumah dan sekolah di Prancis selama ini tidak dilengkapi pendingin ruangan karena musim panas biasanya berlangsung relatif sejuk. Namun, perubahan iklim membuat gelombang panas terjadi semakin sering dan lebih ekstrem sehingga kebutuhan terhadap AC meningkat tajam.









