Ramai PPKS Berkerumun Tunggu Pak Haji Gocap, Dinsos Jaksel Turun Tangan

Ramai PPKS Berkerumun Tunggu Pak Haji Gocap, Dinsos Jaksel Turun Tangan

Terkini | inews | Senin, 31 Agustus 2026 - 02:02
share

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 25 Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) terjaring operasi penjangkauan gabungan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lantaran fenomena Pak Haji Gocap. Mereka selanjutnya dibawa ke panti sosial untuk mendapatkan pendataan, pembinaan, dan penanganan lebih lanjut.

Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Bernad Tambunan mengatakan, operasi penjangkauan dilakukan berdasarkan hasil monitoring petugas serta laporan dari masyarakat. Penyisiran dilakukan di sejumlah titik mulai dari Jalan Fatmawati hingga Jalan Darmawangsa.

"Mereka langsung kita bawa menggunakan mobil operasional untuk pendataan dan mengantisipasi hal yang tidak diinginkan," ujar Bernad, Minggu (30/8/2026).

Bernad merinci, dari 25 PPKS yang terjaring, sebanyak 17 orang merupakan pria dewasa dan delapan lainnya perempuan. Setelah dilakukan pendataan, seluruhnya dirujuk ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Kedoya, Jakarta Barat.

Di lokasi tersebut, para PPKS akan mendapatkan pembinaan dan penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing. Pemerintah juga mendorong agar mereka mendapatkan bekal keterampilan sehingga dapat memiliki aktivitas produktif dan tidak kembali ke jalan.

"Mereka kita bawa semua untuk mendapatkan pembinaan dan penanganan lebih lanjut. Kalau sudah punya bekal keterampilan kita ingin mereka tidak lagi kembali ke jalan," terangnya.

Sementara itu, Camat Kebayoran Baru Rachmat Mulyadi mengatakan, operasi tersebut melibatkan sedikitnya 75 personel gabungan. Mereka berasal dari unsur Suku Dinas Sosial, Satpol PP, TNI-Polri, serta sejumlah unsur terkait lainnya.

"Penjangkauan dilakukan di sejumlah lokasi yang menjadi titik berkumpul berdasarkan aduan masyarakat dan hasil monitoring petugas di lapangan. Rute penyisiran meliputi area ITC Fatmawati, kawasan Blok A, hingga sekitar Gedung Tribrata Darmawangsa," ungkap Rachmat.

Menurut Rachmat, keberadaan PPKS di sejumlah fasilitas umum, khususnya pada malam hingga dini hari, masih menjadi perhatian pemerintah. Pihaknya bersama jajaran terkait juga telah berulang kali memberikan edukasi dan sosialisasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Rachmat berharap operasi penjangkauan yang dilakukan bersama berbagai unsur tersebut dapat menjadi langkah terakhir. Dia ingin tidak ada lagi masyarakat yang berkumpul hingga tengah malam dan memenuhi trotoar maupun fasilitas umum.

"Mudah-mudahan ini penjangkauan PPKS yang terakhir. Ke depan diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang berkumpul tengah malam memenuhi trotoar ataupun fasilitas umum lainnya," tandasnya.

Salah satu fenomena yang sebelumnya ditemukan yakni adanya warga yang berkumpul pada malam hari untuk menunggu sosok yang dikenal dengan sebutan "Pak Haji Gocap". Sosok tersebut disebut-sebut kerap membagikan uang Rp50.000 kepada warga yang ditemuinya di jalan.

Pada Jumat (21/8/2026) malam hingga Sabtu (22/8/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, sejumlah orang terlihat masih bertahan di halte maupun depan ruko yang telah tutup di sepanjang Jalan Mampang Prapatan Raya. Mereka menunggu kemungkinan sosok tersebut melintas.

Salah seorang warga berinisial MR (40), yang berprofesi sebagai ojek pangkalan, mengaku sudah puluhan kali menerima uang dari "Pak Haji Gocap". Menurutnya, sosok tersebut biasanya melintas pada malam-malam tertentu.

"Hari ini belum tentu lewat, biasanya malam Kamis atau malam Senin, jam 11 atau jam 12 kadang jam 1," kata MR, Sabtu (22/8/2026).

MR mengatakan, kendaraan yang ditumpangi "Pak Haji Gocap" biasanya berupa mobil berwarna putih atau hitam dengan lampu terang. Mobil tersebut disebut berjalan perlahan di sisi jalan.

Namun, MR tidak mengetahui secara pasti seperti apa sosok yang selama ini disebut "Pak Haji". Sebab, pengemudi hanya membuka sebagian kaca mobil yang berwarna gelap ketika membagikan uang.

Menurut pengakuannya, aksi bagi-bagi uang tersebut telah berlangsung selama sekitar lima tahun. Besaran uang yang diberikan juga disebut mengalami perubahan seiring semakin banyaknya warga yang menunggu.

"Dulu gede ngasihnya Rp300.000, sekarang karena udah banyak orang jadi Rp50.000," ucapnya.

Topik Menarik